I'm here

Nama:Rizka Dirrasty
Npm:12109624
Kelas: 4 Ka 17





Jumat, 11 Januari 2013

SRINTIL Dan RASUS

Legenda atau mitologi lahir dari sebuah kejadian yang di sertai dengan pemikiran manusia, pemikiran tentang moral, ketuhanan atau tentang perjalanan hidup. Legenda merupakan salah satu sarana mempartahankan cerita yang berakar pada budaya dan hal-hal yang menjadi dasar lahirnya sebuah kisah. Ronggeng atau biasa kita sebut penari ronggeng adalah kesenia rakyat yaitu penari yang menghibur penduduk desa biasanya ditampilkan malam hari.
Ronggeng dukuh paruk karya ahmad tohari (1982) merupakan trilogi yang menceritakan kehidupan seorang penari ronggeng dengan mitos dan segala kepercayaan yang lahir di tengah masyarakat jawa pada masa itu yaitu sekitar thn 1953. Dukuh paruk, sebuah desa miskin yang di daerah jawa barat yang sangat mengagungi kesenian ronggeng ini dengan segala kepercayan magisnya. Menjaga tradisi leluhur adalah kewajiban meskipun harus diberengi dengan pengrobanan. Seperti drupadi yang tidak pernah menyangka akan menjadi istri dari panca pandawa, begitu juga yang terjadi dengan srintil yang tidak pernah menyangka dirinya menjadi titisan seorang ronggeng.
Menjadi penari ronggeng merupakan darma bakti seorang srintil bagi orang tuanya, orang-orang disekitarnya dan juga bagi desanya “dukuh paruk”, namun menjadi ronggeng tidaklah mudah yang tidak hanya menari di atas pentas namun juga menjadi milik seluruh warga dukuh. Kondisi yang meprihatinkan jika dilihat dari segi moral dan konflik batin seorang anak manusia, srintil yang harus mengorbankan rasa cinta dan masa depannya yaitu rasus pujaan hatinya yang harus merelakan hubugan mereka dan mejauh dengan cara masing-masing, hingga akhirnya srintil sadar akan kesalahannya dan membawanya kepada jalur yang semakin rumit.

Kepentingan dan kebutuhan hidup. Dua hal yang membuat semua menjadi semakin rumit dalam sejarah kehidupan manusia selain keegoisan manusia, jaman mulai berganti dan membawa dukuh paruk pada kemajuan dan kesejahteraan fatamorgana yang hanya menjadi hasil dari kepentingan sekelompok manusia egois yang memperdaya warga dukuh paruk. Namun keberanian srintil layak dijadikan contoh bagaimana ia berani mengusik kembali sejarah kelam Indonesia khusunya desa dukuh paruk dimana kemiskinan, ketidaktahuan, dan keinginan untuk hidup menjadi ladang pembodohan masal yang berujung pada kekerasan yang tragis dan mengenaskan.

Tidak ada kata cinta dan kata sayang yang jelas terdengar dalam sepanjang skenario kisah ini, menikmati sebuah mitologi dan legenda dipaparkan. Namun pada akhrinya semua kisah perjuangan srintil adalah berujung pada satu pengungkapan nyata tentang kata “cinta”, ini adalah sebuah kisah cinta seorang anak manusia. Ternyata “cinta itu lebih dalam dan berarti jika diungkapkan dengan sikap yang tulus dan pengorbanan tanpa ucapan”. 

(inspired of “Sang penari” a film by shanty Harmayn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar